*sebelumnya bisa diliat di http://historylifeofoxygen.blogspot.com/2011/02/untitled.html
Aku menjerit sekeras-kerasnya, sampai kurasakan pita suaraku hampir putus. Kujatuhkan kepalaku di dada Gabriel yang juga ternganga melihat 3 sosok didepannya. Aku menangis, tangis sejadi-jadinya, tangis yang menyayat.
“Cla..vel..” kudengar sama-sama suara. Kutolehkan pandanganku ke ruangan gelap di depanku. Sevierre. Masih hidup. Aku memekik kencang dan mendekatinya.
“Gabriel, bantu aku!” perintahku pada Gabriel. Kupapah Sevierre hati-hati, berusah tidak memegang lukanya.
“Mom.. Dad..” susah payah Sevierre bersuara.
“Cukup Sev! Jangan bicara terlalu banyak! Gabriel, tunggu di sini, aku telepon ambulans!” lalu aku terburu-buru menuruni tangga, menuju telepon. Tanganku gemetar dan suaraku bergetar saat berbicara di telepon.
10 menit kemudian, ambulans telah datang. Dalam kepanikan aku berusaha tenang, kuambil napas berkali-kali, namun gagal. Mom, Dad, dan Sevierre dibawa ke rumah sakit. Aku dan Gabriel turut serta dalam mobil yang lain.
Sepanjang jalan aku menangis, aku bingung dan shock, siapa yang melakukan ini? Gabriel terlihat lesu, namun dia berusaha menghiburku. Percuma.
Sesampainya di rumah sakit, Sevierre dibawa ke ruang UGD. Sedangkan Mom dan Dad?
Dokter bilang, kami telah terlambat. Mom dan Dad telah kehilangan banyak darah. Mereka dibunuh. Tulang lehernya patah, kulit mereka disayat-sayat dan ditetesi perasan jeruk nipis, dan paru-parunya ditusuk berkali-kali. Aku terkulai lemas, tenagaku habis. Aku tak bisa lagi menjerit dan menangis. Mataku kosong, tanpa cahaya. Cahaya hidupku kini telah pergi.
Sevierre beruntung masih selamat. Kepalanya dibenturkan berkali-kali ke dinding. Di paha dan lengannya terdapat bekas sayatan memanjang, namun untunglah dia masih hidup. Hanya dia satu-satunya yang kupunya, setelah kedua cahaya hidupku pergi.
Aku dan Gabriel masuk kamar Sevierre dirawat. Kulihat ia terbaring di sana, matanya terpejam. Luka-lukanya telah dibalut, detak jantungnya stabil, dengan alat pernapasan pada hidungnya. Aku terduduk di sofa. Mataku tertutup, aku pusing dengan semua keadaan ini. Gabriel merangkulku, ia hanya diam. Membiarkanku menangis dan menangis.
Indonesia, Februari 2009..
Aku cuti kuliah dan pulang ke Indonesia. Di sini aku bersimpuh di batu nisan orangtuaku. Semenjak mereka pergi, hidupku rasanya tak sama lagi. Kosong. Sekeras apapun kucari orang lain untuk menggantikan mereka, aku selalu gagal. Kekosongan ini terlalu luas. Dan luka ini, terlalu dalam.
Mungkin luka di kulit bisa dijahit dan kering, tapi luka di hati, tak akan pernah kering, terutama jika tidak dijahit.
Oktober 2009..
“Clavel, kuliahmu akan kau lanjutkan?” Sevierre bertanya padaku, saat kami sedang menikmati makan siang di BSM.
Aku diam. Memikirkan apa yang telah terjadi selama ini. Kuhela napas panjang, “Aku tidak tahu.”
Sevierre meneguk milkshakenya. “You have to. Mom dan Dad pasti tidak suka kuliahmu berantakan.”
Teringat akan mom dan dad, emosiku meluap. “Peduli setan! Mereka sudah tidak ada Sev! Mati! M-A-T-I! apa gunaku kuliah jika bahkan saat wisuda mereka tidak ada?!” air mataku merebak, tak mampu lagi kutahan.
“Lagi pula aku tak mampu membayar kuliahku..” aku memegangi dadaku. Sakit. Seperti tersayat. Sebenarnya aku ingin meneruskan kuliahku. Aku ingin kembali ke London. Namun apa dayaku. Kenyataan pahit yang datang di usia muda memang sulit diterima.
“Aku tahu di mana ayah dan ibu menyimpan uang untuk pendidikan kita. Lagi pula, aku masih mempunyai cukup uang untuk kuliahmu.” Sevierre berkata santai.
Lagi-lagi aku menghela napas, “Aku masih bingung Sev, rasanya semangat hidupku telah hilang.”
“Kau tahu, lanjutkanlah kuliahmu. Dan, oh ya, ingatlah, kau masih mempunyai teman. Ingat Gabriel, bukan? Sudah setahun ini kau tak bertemu dengannya.”
Aku tertegun. Gabriel Yamaguchi…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar